Jurnal Mumu Zainal Mutaqin

SOSIALISASI DAN PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURAL PADA SEKOLAH DAN PESANTREN DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

Oleh:

Mumu Zainal Mutaqin

 

  1. Latar Belakang Masalah

Modernisasi dan globalisai telah mendorong terjadinya mobilitas sosial, ekonomi, pendidikan dan politik yang meruntuhkan sekat-sekat kultural, etnik, ideologi dan agama. Akibathaltersebut, sulit bagi seseorang untuk memproteksi diri dalam komunitas sosial yang monokultur. Sebaliknya, fenomena multikultur telah menjadi bagian dari peradaban manusia secara imperatif.

Indonesia adalah bangsa yang majemuk dari segi bahasa, ras, etnis/suku, gender, adat istiadat dan agama. Tegasnya, Indonesia adalah bangsa yang multikultur. Perbedaan kulturmaupunagama tidak jarang mengakibatkan perpecahan anggota masyarakat yang menjurus pada disintegrasi bangsa.Padamasyarakat majemuk, selalu ada prasangka yang menpengaruhi interaksi sosial antara berbagai golongan penduduk yang terkadangmenyandang perangkat prasangkasebagai warisan genarasi sebelumnya.Golongan pribumi, misalnya, hidup dengan sejumlah prasangka terhadap wargaketurunan, dan demikian pula sebaliknya. Golongan Islam menyimpan sejumlah prasangka terhadap golongan Kristen, dan sebaliknya.

Berbagai prasangka sosial dalam masyarakat majemuk tidak bersifatlanggeng. Dari waktu kewaktu, berbagai prasangka itu berubah. Perubahan dalam prasangka ini dapat manuju kepada bentuk interaksi sosial yang lebih baik atau sebaliknya. Dalam kurun waktu tertentu, golongan-golongan penduduk bisa menjadi lebih saling mencurigai, saling membenci, tetapi juga bisa menjadi saling memahami dan saling menghormati. Ini ditentukan oleh cara berbagai golongan penduduk dalam suatu masyarakat majemuk mengelola prasangka-prasangka sosial yang ada dalam diri masing-masing.

Pendidikan multikultural merupakan upaya kolektif suatu masyarakat majemuk untuk mengelola berbagai prasangka sosial yang ada dengan cara-cara yang baik. Tujuannyaadalah menciptakan hubungan lebih serasi dan kreatif di antara berbagai golongan penduduk dalam masyarakat.

Melalui pendidikan multikutural, siswa yang datang dari berbagai golongan penduduk dibimbing untuk saling mengenal cara hidup mereka, adat-istiadat, kebiasaan, memahami aspirasi-aspirasi mereka, serta untuk mengakui dan menghormati bahwa tiap individu dan golongan memiliki hak untuk menyatakan diri menurut caranya masing-masing. Dalam konteks masyarakat Indonesia, misalnya, melalui pendidikan multikultural, para siswa dapat dibimbing untuk memahami makna Bhineka Tunggal Ika yang hakiki, dan untuk mengamalkan semboyan ini dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Pendidikan merupakan salah satu wahana stategis untuk melakukan sosialisasi, penanamandansekaligusinternalisasi nilai-nilai sikap beragama yang toleran, pluralis dan inklusif. Internalisasi tersebut dapat dilakukan melalu tiga fungsi utama pendidikan: pertama, transmisi, yakni mengalihkanataumewariskan nilai-nilai luhur yang dianggap baik, kedua,maintenance; yakni memeliharaataumengawetkan nilai-nilai dan kebudayaan yang telah mapan dan terpelihara dalam kehidupan masyarakat dan ketiga, reproduksi yakni memelihara kembali semangat dan pengalaman masa lalu kedalam bentuk pengetahuan dan kebudayaan yang lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa atausantriakan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman. Dengan pengembangan model pendidikan berbasis mulitikultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peseta didik dansantriuntuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antar golongan.

Sosialisasidanpenanamannilai-nilaimultikulturdirasakansangatpentingsaatini.Faktamenunjukkanbahwa akhir-akhir ini persatuan dankesatuan bangsa terkoyak, ukhuwah terganggu. Tragedi di Cikeusik, Pandeglang, Bantenmenyentuh hati dan perasaan para pecinta perdamaian. Dipicu oleh ketidakpatuhan parapengikut Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri:Menteri Dalam Negeri, Agama dan Jaksa Agung.

Selain kejadian di Cikeusik, Pandegelang, serentetan aksi kekerasan juga dialami warga Ahmadiyah di sejumlah daerah. Dalam tahun 2010 saja, setidaknya tercatat empat kali penyerangan terhadap warga Ahmadiyah, (1) penyerangan di Desa Manis Lor, Kuningan, Jawa Barat; (2) penyerangan di Kampung Cisalada, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; (3) penyerangan di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; dan (4) penyerangan terhadap Masjid Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, oleh sekitar 50 orang massa tak dikenal, dengan menggunakan batu dan senjata tajam. Penyerangan di Cikeusik menjadi penanda awal di tahun 2011, tentang buruknya perlindungan negara terhadap warganya, khususnya kelompok minoritas.

KabupatenLebak, yang notabenemenjadi tetangga dekat Cikeusikmerupakansalahsatukabupaten yang memilikikeragamanbaikdalametnis, budayamaupun agama. Misalnya, di KabupatenLebakterdapatmasyarakatBaduy yang memilikikepercayaanSundaWiwitan, sertakeberadaanetnisdan agama di luarmayoritas Islam.Untukmenjagakeharmoniandansikapsalingmenghargaiperbedaantersebut, sangatdiperlukansosialisasidanpenanamannilai-nilaimultikulturpadamasyarakatsetempat.

Sampaisaatini di KabupatenLebak belum adasekolah, madrasah maupunpesantren yang mengembangkan pendidikan multikutural secara formal. Padahal sebagaimana dikatakan HAR Tilaar (2006), dengan mengembangkan model pendidikan berbasis multkultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik.Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubahpemikiran peserta didik maupunsantriuntuk benar-benar tulus menghargai keberagamaan etnis, agama, ras, dan antragolongan.

Pendidikan merupakan social production, menyiapkan genarasi muda untuk mengambil alih peran pendahuluannya. Di samping mempelajari hal-hal yang bersifat akademis, pembekalan kepribadian penting artinya untuk menghadapi lingkungan dalam situasi apapun. Pendidikan diarahkan untukmemekarkan eksistensi kemanusiaan, dan bukan sekedar agar manusia dapat hidup secara biologis meteriil semata (Fuad Hasan : 1993).

Sekolah maupunpesantrensebagai suatu institusi pendidikandiharapkan mampu menjadi persemaian bibit-bibitbagi kekuatan kehidupan masyarakat di masa datang. Pendidikan merupakan bagian dari proses pembudayaan nurani dan pemerdekaan berfikir. Semuanya diarahkan pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnyayaitu manusia Indonesia yang beriman bertakwa dan berbudi pekerti luhur, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyrakatan dan kebangsaan (UUSPN Bab II, pasal 4).

Usia akhir remaja merupakan masa penguatan kematangan sikap mengahadapi usia dewasa (adolesen), sehingga pengalaman yang diperoleh pada usia tersebut menjadi sangat determinatif bagi masa-masa selanjutnya. Pada usia 15-18 tahun, seseorang memiliki karakteristik perkembangan antara lain: sudah mulai memahami diri sendiri dan diri orang lain, membedakan memilih mana yang benar dan salah secara rasional dan mampu membedakan mana yang etis dan tidak etis dari segi moral (Parsono, dkk; 1996:22).

Baik sekolah, madrasah maupun pesantren di KabupatenLebaktentu memiliki peluang yang besaruntukmelaksanakanpendidikan multicultural, selamaparapemangkukepentinganmengharapkanlulusannyamemilikisikap beragama yang inklusif. Dan jika dilaksanakan dengan benar, pada waktunya pendidikan multikultural akan melahirkan proses integrasibangsa yang sehat, dan melahirkan identitas bangsa yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Sosialisasidanpenanamannilai-nilaipendididkan multikultural disekolahmaupun pesantren, pada satnya akan lahir generasi Muslim Indonesia yang memiliki cakrawala politik, sosial dan kultural luas tanpa kehilangan indentitas. Jika menerima kamajemukan dan memahami apa yang didambakan tentang diri sebagai bangsa, kiranya tidak sulit menemukan cara-caramenyelenggarakan pendidikan multikultural tanpa mengubah watak dasar kita.

Berdasarkanlatarbelakangtersebutperlu ada kajian yang mendalam tentang bagaimana sosialisasidanpenanamannilai-nilaipendidikan multikural dilaksanakan pada intitusi pendidikan baik di sekolahmaupunpesantren.Kajian iniakan dituangkan dalam penelitian dengan judul: “Sosialisasi danPenanamanNilai-nilai Multikultural pada Sekolah danPesantren di KabupatenLebakProvinsiBanten”.